Sabtu, 12 November 2011

Makassar melawan VOC

Makassar berkembang pesat dan mencapai puncak kejayaan
pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654–1659). Sultan
Hasanuddin menolak monopoli yang dilakukan oleh VOC, sehingga
terjadilah perang dengan VOC. Peperangan berlangsung tiga kali.
Pertama, terjadi pada tahun 1633, di mana VOC berusaha
memblokade Makassar untuk menghentikan arus keluar masuk
perdagangan di Makassar, namun usaha ini belum berhasil.
Pertempuran kedua terjadi pada tahun 1654, serangan ini juga
belum berhasil.
Pertempuran ketiga merupakan pertempuran besar yang
terjadi pada tahun 1667. Dalam perang ini VOC melaksanakan
politik devide et impera, yaitu mengadu domba antara Sultan
Hasanuddin dengan Aru Palaka (Raja Bone).
Akhirnya, pada waktu itu Sultan Hasanudin dipaksa
menandatangani perjanjian Bongaya (1667) yang isinya:
a) Makassar mengakui kekuasaan VOC.
b) VOC memegang monopoli perdagangan di Makassar.
c) Aru Palaka dijadikan Raja Bone.
d) Makassar harus melepaskan Bugis dan Bone.
e) Makassar harus membayar biaya perang VOC.
Karena kegigihannya melawan VOC, Sultan Hasanuddin
dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”.
sumber : waluyo dan sri sudarmi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...