Sabtu, 05 November 2011

Tahukah anda ?


Narkotika
Istilah narkotika pada mulanya sebenarnya diterapkan untuk semua senyawa
yang dapat memproduksi insensibilitas (perasaan tidak peduli) terhadap rangsang
dari luar melalui penenangan pada sistem saraf pusat. Sekarang ini istilah
narkotika didefinisikan sebagai zat dan obat yang berasal dari tanaman opium
(narkotika alam) atau zat dan obat yang bukan berasal dari tanaman (narkotika
sintetis), yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan
Sifat terpenting narkotika adalah kemampuannya untuk mengurangi rasa sakit,
bukan hanya mengurangi persepsi terhadap rasa sakit tetapi juga dengan
mengubah reaksi terhadap rasa sakit itu sendiri. Daya kerjanya yang luar biasa
untuk memengaruhi sistem saraf menyebabkan orang yang mengonsumsinya
tidak merasakan sakit, bahkan justru merasakan seperti terbang, atau berada di
dunia lain yang diinginkannya. Keadaan ini disebut sebagai ”nge-fly” atau ”sakau”
bagi penggunanya.
Meskipun narkotika memiliki efek penenang jika digunakan dalam dosis tinggi,
tetapi zat tersebut pada umumnya tidak digunakan sebagai penenang.
Kebanyakan orang mengonsumsinya karena ingin mencari kesenangan akibat
euphoria yang ditimbulkannya. Selain itu, sifat narkotika yang adiktif (menimbulkan
kecanduan) merangsang orang untuk mengonsumsinya dengan dosis yang terus
meningkat tanpa peduli bahaya yang mengancam jiwanya.
Efek yang dapat ditimbulkan karena pemakaian narkotika antara lain sebagai
berikut.
1. Sedatif atau menghilangkan rasa nyeri.
2. Analgesik atau membius.
3. Depresan atau menenangkan.
4. Stimulan atau merangsang.
5. Euphoria atau menyenangkan.
6. Halusinogen atau menimbulkan khayalan.
Beberapa jenis narkotika antara lain ganja (marijuana), morfin, heroin, dan kokain.
1. Ganja (Marijuana)
Ganja diperoleh dari daun kering dan pucuk tanaman ganja
(Cannabis sativa) yang sedang berbunga. Ganja dapat tumbuh dengan
baik di daerah-daerah beriklim tropis dan sedang seperti di negaranegara
di Asia Tenggara, Asia Tengah, Amerika Latin, Cina, dan India.
Ganja dapat digunakan untuk bahan obat penenang dan penghilang
rasa sakit. Kandungan zat kimia delta-9-tetrahydrocannabinol (THC)
di dalam daun ganja dalam dosis tertentu dipercaya dapat memengaruhi
perasaan, penglihatan, dan pendengaran. Efek tersebut
menyebabkan ganja banyak dimanfaatkan untuk kemoterapi terhadap
para penderita kanker. Dengan mengonsumsi pil tersebut rasa sakit, keinginan
muntah terus-menerus, dan rasa mual yang hebat dapat ditanggulangi.
Ganja yang juga terkenal dengan sebutan rumput, cimeng, gelek,
kangkung, pot, reefer, atau Mary Jane tampaknya lebih banyak diperdagangkan
secara ilegal untuk disalahgunakan daripada dimanfaatkan untuk
keperluan medis. Penjualan ganja biasanya dalam bentuk kering yang sering
disebut marijuana, atau dalam kemasan cair (minyak cannabis). Ganja
biasanya disalahgunakan dengan cara dihisap sebagai rokok atau dikunyah
untuk mendapatkan efeknya yang memabukkan (intoksikasi).
Setiap batang rokok ganja diperkirakan memiliki kandungan THC yang
berkisar antara 5–20 miligram. Orang yang mengisap ganja, pada saat
intoksikasi akan mengalami hal-hal berikut.
a. Tahap awal berupa rasa pusing dan euphoria (rasa gembira) diikuti rasa
damai dan tenang.
b. Perubahan suasana hati yang diikuti dengan perubahan persepsi tentang
ruang dan waktu.
c. Proses berpikir menjadi terganggu oleh terpecah-pecahnya ide dan
ingatan.
d. Beberapa pengguna menyatakan selera makan dan perasaan senang
serta bahagia mereka meningkat.
e. Efek negatif ganja bisa berupa perasaan bingung, reaksi panik yang
berlebihan, keinginan untuk menyerang, ketakutan, tak berdaya, dan
kehilangan kontrol diri.
f. Pengguna ganja yang kronis akan mengalami sindrom amotivasional,
yaitu menjadi sangat pasif dan tidak peduli pada apa pun.
g. Seperti intoksikasi pada alkohol, pandangan, pendengaran, cara bicara,
kemampuan menyelesaikan masalah, ingatan, waktu untuk merespon
sesuatu, dan kemampuan mengendarai kendaraan bermotor menjadi
terganggu.
2. Morfin
Morfin berasal dari tanaman opium atau candu. Opium mentah
mengandung 4–21 % morfin. Morfin pertama kali diisolasi dan dianalisis
secara kimia oleh seorang apoteker Jerman bernama F. W. A. Setürner
antara tahun 1805 dan 1817. Morfin mempunyai sifat penahan nyeri yang
kuat, tidak berbau, rasanya pahit, berupa kristal putih yang dapat berubah
warna menjadi kecokelatan.
Morfin banyak digunakan di dunia medis sebagai bahan sedatif
(penenang) dan pembunuh rasa sakit. Penyalahgunaan konsumsi morfin
biasanya dilakukan melalui berbagai cara, yaitu ditelan, disuntikkan, dihirup
langsung melalui hidung, dirokok, dibakar atau dipanaskan dan dihirup
uapnya. Untuk menambah aroma dan rasa, morfin yang sering disalahgunakan
biasanya dikonsumsi setelah dicampur dengan zat lain seperti
gula, cokelat, atau mint.
3. Heroin
Heroin atau diamorfin adalah jenis obat analgesik (penahan nyeri)
yang kuat dan merupakan turunan sintetis dari morfin. Heroin biasanya
berbentuk serbuk putih dan pahit rasanya. Di pasar gelap, heroin dapat
berbentuk aneka macam warna karena dicampur dengan gula, susu
bubuk, gula merah, tepung, kinin, atau kakao. Heroin dapat menimbulkan
rasa kantuk, halusinasi, dan euphoria. Heroin juga dikenal
dengan nama putau.
Heroin merupakan jenis narkotika yang paling banyak disalahgunakan.
Seperti halnya pada morfin, penyalahgunaan konsumsi heroin
biasanya dilakukan melalui berbagai cara, yaitu ditelan, disuntikkan, dihirup
langsung melalui hidung, dirokok, dibakar, atau dipanaskan dan dihirup uapnya.
4. Kokain
Tanaman coca (Erythroxylon coca) yang banyak tumbuh di Pegunungan
Andes, Amerika Selatan, menghasilkan daun yang mengandung senyawa kimia
alkaloid yang bernama kokain dan senyawa-senyawa turunan yang sejenis.
Dengan mengunyah daun coca, seseorang
akan terkena efek narkotik dari kokain dan senyawasenyawa
lain yang ada di dalam daun coca.
Senyawa ini pertama kali digunakan untuk obat
bius pada suatu bedah kecil. Namun, kemudian
diketahui bahwa kokain ternyata dapat menyebabkan
kecanduan sehingga digantikan oleh
senyawa lain yang lebih aman.
Dewasa ini kokain digolongkan sebagai narkotika dan peredarannya
adalah ilegal. Kokain dapat menyebabkan kematian meskipun dikonsumsi
dalam jumlah kecil oleh pemakai pemula. Sementara itu, penggunaan yang
terus-menerus menyebabkan ketagihan.
Secara fisik dan psikis orang yang sudah terbiasa menggunakan narkoba
berbeda dari orang normal. Ciri-ciri orang yang kecanduan narkoba adalah
sebagai berikut.
1. Lesu, mata merah dan kelihatan mengantuk, pikiran melayang.
2. Tidak sabaran, apa yang diinginkan harus segera dipenuhi saat itu juga.
3. Cenderung hedonis, melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan.
4. Bila ada permasalahan pelik, sifat agresif dan destruktif selalu dikedepankan.
5. Biasanya mengalami kesulitan dalam pergaulan dengan lawan jenisnya, malu,
rendah diri, sukar didekati atau mendekati lawan jenis, dan suka menyendiri.
6. Menjadi dewasa pada usia terlalu dini dengan berperilaku seks bebas dan
melakukan tindakan kriminal. Jika sudah ketagihan, apa pun akan dilakukan
untuk mendapatkan narkoba dan memuaskan rasa ketagihannya.
7. Sikapnya cenderung sangat ceroboh, nekat, dan kurang perhitungan.
8. Pembosan, emosi tidak stabil, tidak konsentrasi, tidak bersemangat, malas,
depresi, dan tidak memiliki motivasi.
Penanggulangan ketergantungan terhadap narkoba dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Penemuan berbagai jenis obat antinarkotika telah memungkinkan
dilakukannya penanganan kasus-kasus over dosis dengan cepat dan efisien.
Obat standar yang biasa digunakan adalah naloxone. Beberapa jenis antagonis
(obat yang bersifat menetralisir pengaruh obat yang sudah dikonsumsi
sebelumnya) diketahui memiliki sifat-sifat seperti narkotik, yang kemudian
dimanfaatkan untuk menciptakan obat analgesik baru campuran agonis-antagonis.
Obat ini diharapkan menjadi obat analgesik yang tidak menimbulkan efek euphoria
dan kecanduan serta dapat menggantikan fungsi obat-obat analgesik jenis lama
yang biasanya mengandung narkotika. Contoh obat-obatan jenis ini antara lain
pentazocine, butorphanol, dan nalbuphine.
Meskipun banyak cara dan obat yang tersedia untuk menyembuhkan pecandu
narkoba, namun semua cara itu sangat tergantung dengan kondisi setiap pecandu,
baik itu tingkat ketergantungan, lingkungan, tekad ingin sembuh, maupun kondisi
finansial. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan rehabilitasi
bagi pecandu narkoba juga sangat beragam. Ada yang hanya menyediakan
detoksifikasi sehingga pasien tidak perlu menginap, misalnya rumah sakit, klinik,
dan puskesmas. Ada juga tempat-tempat rehabilitasi yang menyediakan penginapan
seperti asrama, dengan fasilitas yang lengkap, udara segar, dan pemandangan
alam yang indah. Ada juga pusat rehabilitasi yang memasukkan ajaranajaran
agama di dalam program mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...