Sabtu, 05 November 2011

VOC


SEJARAH VOC

Pada tahun 1596 Cornelis de Houtman tiba di Banten
untuk tujuan perdagangan. Karena sikap Belanda yang
sombong, maka mereka diusir dari Banten. Pada tahun
1598, penjelajahan Belanda di bawah pimpinan Jacob van
Neck tiba di Banten. Mereka diterima dengan baik oleh
penguasa Banten, juga pendaratan di sepanjang pantai Utara Jawa
dan Maluku. Sejak ini, hubungan dagang dengan para pedagang
Belanda semakin ramai. Dalam perkembangannya, antarpedagang
Belanda terjadi persaingan yang kian memanas. Untuk mengatasi
persaingan yang rawan ini dibentuklah suatu kongsi dagang berupa
persekutuan dagang India Timur atas prakarsa Johan van
Oldenbarnevelt. Kongsi dagang ini dibentuk tanggal 20 Maret 1602
dengan nama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).
Tujuan pembentukan VOC sebenarnya tidak
hanya untuk menghindari persaingan di antara
pedagang Belanda, tetapi juga:
1) menyaingi kongsi dagang Inggris di India,
yaitu EIC (East India Company),
2) menguasai pelabuhan-pelabuhan penting dan
kerajaan-kerajaan, serta
3) melaksanakan monopoli perdagangan
rempah-rempah.
Di Indonesia, VOC berusaha mengisi kas keuangannya
yang kosong. VOC menerapkan aturan
baru yaitu Verplichte Leverantie atau penyerahan wajib.
Tiap daerah diwajibkan menyerahkan hasil bumi
kepada VOC menurut harga yang telah ditentukan.
Sumber: Encarta Encyclopedia, 2006
Gambar 4.12 Rempah-rempah
yang menjadi komoditi utama
dalam perdagangan.
Cengkih yang digunakan sebagai
rempah-rempah itu ialah kuntum
bunga yang sudah kering. Kuntum
bunga itu dipetik sebelum jadi buah,
diasapi lalu dijemur hingga kering.
Pala yang dijadikan rempah-rempah
adalah biji buah pala yang sudah tua
dan masak. Selaput biji pala disebut
fulli atau ‘kembang pala’. Kulit dan
daging dibuat manisan pala.
Hasil bumi yang wajib diserahkan yaitu lada, kayu manis, beras, ternak,
nila, gula, dan kapas. Selain itu, VOC juga menerapkan Prianger stelsel,
yaitu aturan yang mewajibkan rakyat Priangan menanam kopi dan
menyerahkan hasilnya kepada VOC.
Dari aturan-aturan tersebut, VOC meneguk keuntungan yang
sangat besar. Namun tidak bertahan lama karena mulai akhir abad
ke-18 keuangan VOC terus mengalami kemerosotan. Penyebabnya
adalah mengalami kerugian yang besar dan utang yang cukup banyak.
Pada akhir abad ke -18 VOC mengalami kemerosotan. Hal ini
diakibatkan oleh:
1) persaingan perdagangan dengan kongsi-kongsi lain dari bangsa
Inggris dan Prancis,
2) penduduk Indonesia, terutama di Jawa telah menjadi miskin
sehingga tidak mampu membeli barang-barang VOC,
3) perdagangan gelap merajalela, dan menerobos monopoli
perdagangan VOC,
4) pegawai-pegawai VOC banyak yang korupsi,
5) banyak biaya perang yang dikeluarkan untuk mengatasi
perlawanan penduduk, dan
6) kerugian yang cukup besar dan utang yang
berjumlah banyak.
Akhirnya pada tanggal 31 Desember 1799 VOC
dibubarkan dengan hutang 134,7 juta gulden. Hak
dan kewajibannya diambil alih oleh pemerintah
Republik Bataafsche di bawah kendali Prancis. Pada
tahun 1808, Daendels diangkat menjadi Gubernur
Jenderal untuk wilayah Indonesia. Tugas utamanya
adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa dari
serangan pasukan Inggris. Selanjutnya, Daendels
diganti oleh Janssen namun ia lemah. Akibatnya tidak
mampu menghadapi Inggris. Melalui Kapitulasi Tuntang Janssens
menyerah kepada Inggris. Indonesia menjadi jajahan Inggris.
Disadur dari uku ilmu pengetahuan sosial
Pengarang : Sanusi Fattah , Amin Hidayat, Juli waskito , dan Moh.Taukit Setyawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...